rokok dan kopi adalah pasangan serasi. sumber: www.laweekly.com
“Merokok dapat melemahkan kerja paru-paru, namun menguatkan kerja jantung.
Minum kopi dapat melemahkan kerja jantung, namun menguatkan kerja paru-paru”. Kira-kira
demikian kesimpulan dari beberapa artikel pendek tentang kesehatan. Itulah
mengapa 90% perokok adalah penikmat kopi. Disadari oleh mereka ataupun tidak,
aktivitas merokok dan mengopi merupakan aktivitas yang balance alias seimbang, dan juga menyeimbangkan kinereja badan. Rokok dan kopi adalah pasangan kawin yang paling serasi.
Langit mulai
terang ketika sejumlah manusia lamat-lamat memadati stasiun kereta api Jember. Beberapa
menggunakan mobil, dan mayoritasnya menggunakan sepeda motor. Beberapa diantar
dan beberapa menitipkan kendaraan di parkiran yang memang diperuntukkan sebagai
penitipan kendaraan. Sepeda motor dikenai biaya restribusi sebesar Rp 3000,-
dalam sehari. Petugas penitipan kendaraan dengan sigap dan cermat mencatat
nomor polisi kendaraan dan menanyakan berapa lama kendaraan akan dititipkan.
Pengguna jasa penitipan menjawab dengan jujur sambil menyerahkan sejumlah uang
yang besarnya sudah disepakatkan, dan menerima karcis sebagai bukti penitipan. Meraka
adalah para penikmat jasa kereta api yang tiada bosan merangkak di atas
kepingan baja yang melintang menghubungkan Jember dengan Banyuwangi setiap hari.
Kereta api Pandan Wangi.
Idealisme
dalam diri seseorang ibarat nyawa di dalam tubuh. Tubuh tanpa nyawa akan
kehilangan fungsi kesejatiannya. Seseorang tanpa idealisme akan kehilangan
harganya. Demikian pentingnya nilai sebuah idealisme. Idealismelah yang
menentukan arah bahtera perjuangan mengarungi laut kehidupan.
Lahir
dan dibesarkan dalam lingkungan santri memiliki peran penting dalam pembentukan
minsed idelogi kita. Tanpa membutuhkan
pengukuhan ataupun surat keputusan (SK), kita merasa memiliki tanggungjawab
untuk mengkampanyekan ideologi religiusitas. Mempromosikan nilai-nilai agama
dalam setiap tapak lini perjuangan.
Dalam
hal ini kita memilih jalur tengah yang dalam Al-Quran diperkenalkan dengan istilah
“ummatan wasathon”, atau “kaum tengah”. Kita mencintai ide-ide maupun doktrin
ajaran agama cinta yang menginginkan ending setiap perjungannya adalah cinta. Tentu
saja hal seperti ini sangat berat. Menjadi “kaum tengah” tidak berarti netral
dan buta terhadap salah dan benar. Justeru menjadi kaum tengah dituntut untuk
selalu mengedepankan kebenaran tanpa memandang latarbelakang organisasi, madzhab, suku, ras atau agama seseorang
sekalipun.
Tidak
jarang ide-ide yang disampaikan mendapat apresiasi dan sorak kegembiraan dari
mereka yang merasa sama sepemahaman. Namun tidak jarang juga dipojokkan dan
disudutkan oleh mereka yang merasa risih ataupun prihatin terhadap gagasan yang
disampaikan. Semua itu tidaklah menjadi masalah karena yang dicari bukanlah
tepuk tangan dan sorak-sorai pujian.
Tidak
jarang pula orang yang semula menyetujui dan memuji-muji dan pada saat yang
lain berubah membenci bahkan memusihi. Kadang kala kita menjadi sasaran ‘kaum
kiri’, kadang kala kitapun diserang habis oleh mereka yang merasa sebagai ‘orang
kanan’. Pun itu semua bukanlah masalah karena kita tidak dituntut untuk membuat
semua orang untuk mencintai kita. Toh mereka yang membenci tidaklah berguna
ketika disodori beribu pembelaan dari kita.
Life must go on, kan ? .
Satu
hal yang harus terus kita lakukan adalah terus meningkatkan diri dengan cara
menambah bacaan. Bahan bacaan bukan hanya tulisan dalam buku maupun rentetan
kalimat dalam lembara-lembar tercetak, melainkan semua pelajaran yang
disampaikan Tuhan melalui ayat-ayat semesta. Lagian, semua orang adalah guru dan alam raya adalam sekolah yang
lengkap dengan bangku, meja dan segala aksesorisnya.
Kalau ditanya mengenai masa
depan: salah satunya semoga Allah mempermudah kita untuk membuat sebuah lembaga pendidikan yang menampung segala
jenis keilmuan tanpa membedakan ini ilmu agama, itu ilmu umum, itu ilmu sosial,
itu ilmu sains. Karena hakikat semua keilmuan adalah sama, sejenis, yang
bersumber dari Tuhan melalui agama yang Dia ciptakan. Insyaallah jalan ini
masih sama hingga detik 1 syawwal 1438H/ 25 Juni 2017 ini. Kadang menapak, kadang lurus, dan kadang berliku. Kadang turun, kadang menanjak, kadang berlubang dan menghentak. tapi tenang saja menghadapi itu semua jika kita sudah menganggapnya inilah jalan yang benar.
*Jika berkenan ubahlah kata kita menjadi saya (penulis). Wallahu alam. 01:50 WIB, Darul Hikmah
Istilah 'Dzikir' diadopsi dari bahasa Arab 'dzikrun' yang berarti menyebut, berarti pula mengingat. Dalam kaitannya dengan 'dzikrulloh' atau mengingat Allah tentu saja yang menjadi objek ingatan manusia adalah dzat Allah yang dikenali melalui 99 nama yang mulia (al-asma al husna). Tentu saja nama Allah tidak hanya sebatas 99 nama. Nama-nama Allah sangat banyak dan tak terhingga jumlahnya, selaras dengan sifat yang dimilikiNya.Segala sesuatu yang ada dalam alam raya ini hakikatnya mengandung sifat dzat Allah.
Banyak sekali metode dan alat yang sering digunakan untuk berdzikir. Yang sering didapati dalam lingkungan kita adalah berdzikir dengan tasbih, Qur'an, sholat, jari-jari tangan, dan juga ruas-ruas jari tangan. Seseorang akan secara reflek menjadi 'on' dzikirnya ketika berhadapan dengan alat yang biasa digunakannya untuk berdzikir. Namun sayangnya kesemua alat dzikir tersebut berbatas dengan situsi dan kondisi. Manusia tidak bisa terus-terusan memegang tasbih dalam 24 jam, manusia juga tidak bisa senantiasa berdiri untuk solat sepanjang siang dan malam. Ada satu hal yang tidak bisa ditinggalkan oleh manusia selama hidupnya, yaitu bernafas. Nafas adalah satu-satu aktivitas yang tidak bisa manusia absen darinya selama hidupnya.
sumber gambar: http://www.infoyunik.com
Nafas bisa menjadi alat untuk berdzikir, mengingat Allah. Nafas bisa digunakan sebagai alat untuk lelaku manusia membersamai Allah dalam setiap segmen hidupnya. Sering kali kita memisahkan antara aktivitas duniawi dengan aktifitas ukhrowi. Padahal keduanya bisa disatu padankan dan dikawinkan. Aktifitas duniawi jika diniatkan untuk ibadah kepada Allah maka akan bernilai ukhrowi. Maka dengan itu seluruh aktivitas kita akan selalu dibawah bimbingannya Allah. Dzikir nafas bisa menjadi salah satu metode untuk mempersatukan dzikir dengan jiwa manusia.
Untuk meng'on'kan tombol reflek dzikir nafas ini tentunya membutuhkan latihan dan kontinuitas (keistikomahan). Salah satu hal yang bisa dilakukan dalam dzikr nafas ini adalah memusatkan hati untuk mengingat Allah sembari disertai tarikan dan hembusan nafas. Ritme tarik-hembus nafas akan terlatih sendiri dengan latihan yang masif. Yang harus tetap dijaga dalam ritual dzikir ini adalah sikap ihsan manusia, yaitu beribadah seakan-akan melihat Allah. Jikapun belum mampu menghadirkan Allah maka ada sebuah keyakinan dalam hati bahwa Allah selalu melihat apapun yang manusia perbuat. -wallahu a'lam-
Mengikuti
pergerakan dunia maya tidak akan pernah ada berhentinya. Dari isu satu berganti
ke isu yang lainnya. Dari berita yang satu beralih lagi ke berita yang lainnya.
Tidak sedikit dari isu dan berita itu menjadi viral dan terkenal. Tidak selalu
lewat media massa nasional, sering juga melalui media sosial. Kali ini Kyai
Maman Imanul Haq, pengasuh Ponpes Al Mizan Majalengka yang menjadi sasaran ‘penggorengan’. Kata-katanya dalam acara Kick Andi pada 16 Juni 2017 lalu, ‘disunat’ dan menjadi bahan perdebatan. Dalam
kesempatan tersebut beliau memberi pernyataan:
“Agama
itu akan dilihat dari apa yang kita kerjakan. Jangan lihat apa agamamu, tapi
lihat apa yang temanmu kerjakan pada kita. Orang yang jujur, orang yang soleh,
orang yang punya solidaritas sosial, punya dedikasi, punya loyalitas, apapun
agamanya, dia pasti mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT.
Dari kutipan kalimat tersebut yang paling disoroti adalah kalimat
terakhir, “Orang yang jujur, orang yang
soleh, orang yang punya solidaritas sosial, punya dedikasi, punya loyalitas apapun
agamanya, dia pasti mendapat tempat yang terbaik di sisi Allah SWT. Kalimat ini
dianggap setara dengan ungkapan bahwa “semua agama adalah sama”. Bahkan sebuah akun
facebook memberi judul dengan huruf besar “MENYAMAKAN SEMUA AGAMA SAMA DI SISI
TUHAN, KH MAMAN IMANULHAQ FAQIH DIANJURKAN PINDAH KE AGAMA BUDDHA” disertai
dengan cuplikan video dan dalil-dalil untuk memperkuat argumennya. Hingga
tulisan ini saya buat postingan tersebut sudah mendapat respon sebanyak 12.961
kali dibagikan dengan komentar-komentar yang beragam. Padahal jika diperhatikan
dan dicerna sungguh-sungguh tidak akan ditemukan satupun kalimat yang
menyatakan bahwa ‘semua agama sama di sisi Tuhan’.
Tentang Penafsiran
Kyai Maman sangat berhati-hati
dalam memilih kata supaya tidak melukai umat agama selain Islam, dan untuk
tidak menyakiti saudaranya pemeluk Islam.Jika kalimat tersebut dipisah menjadi tiga, maka akan tampak jelas bahwa
beliau sangat cerdas membangun frasa. Mari diperhatikan kata-demi kata:
1.Orang
yang jujur, orang yang soleh, orang yang punya solidaritas sosial, punya
dedikasi, punya loyalitas. Pada ucapan beliau ini beberapa sikap dan sifat
yang diakui oleh semua agama sebagai sikap dan sifat yang baik dikumpulkan
untuk mengingatkan kepada seluruh audience
tentang sifat yang seharusnya dimiliki oleh semua orang.
2.apapun
agamanya. Beliau sangat faham bahwa yang mendengarkan dan menyaksikan
panggungnya bukan hanya umat Islam, melainkan dari beragam latarbelakang dan
status keagamaan, sehingga tidak menyebut secara frontal dengan kalimat “jika
agamanya Islam”. Hal ini juga berkaitan dengan kampanye toleransi dan
kebhinnekaan yang selama ini beliau kumandangkan.
3.dia pasti
mendapat tempat yang terbaik di sisi Allah SWT. (mungkin) kalimat ini yang
membuat pihak kontra semakin kepanasan. Secara tidak langsung kyai Maman
disudutkan dan dianggap salah karena tidak mengucap “orang baik, jujur, soleh,
kalau tidak beragama Islam maka mendapattempat yang buruk di sisi Allah SAW.”
Berbeda respon dalam menerima sebuah berita adalah hal
yang biasa. Perbedaan anggapan dan penafsiran atas sebuah informasi juga bukan
hal yang luar biasa, bahkan diantara para ahli tafsir sering menemui perbedaan
penafsiran. Wajarlah kalau publik
kekinian juga merespon kalimat Kyai Maman dengan ekspresi berbeda-beda. Apalagi
banyak yang sekedar share tanpa membandingkan ‘caption’ yang ditulis penyebar
dengan isi pidato yang pembicara sampaikan.
Tentang “Tempat Yang Terbaik” di sisi Allah
Kalau
melihat secara tekstual ayat alquranakan ditemui bahwa surga menjadi hak paten penganut agama Islam saja.
begitupula dengan kitab suci lainnya pasti menyebutkan bahwa umatnyalah yang
akan menghuni surga. Dalam ucapannya Kyai Maman tidak menyebut dengan “Orang
yang jujur, orang yang soleh, orang yang punya solidaritas sosial, punya
dedikasi, punya loyalitas apapun agamanya, dia pasti mendapat “Surga Allah SWT”, akan tetapi memilih
dengan kalimat “mendapat tempat terbaik
di sisi Allah”. Kalimat ini seakan bermakna sangat luas namun ternyata
sangat spesifik. Bermakna luas karena
setiap orang seakan bisa membuat penafsiran sesuai dengan background agamanyamasing-masing dan tidak memberi penjelasan "terbaik di dunia" atau "terbaik di akhirat". Kalimat tersebut adalah kalimat pesifik karena ternyata beliau membatasinya dengan
kata “di sisi Allah SWT”.
Pada kalimat "Tempat terbaik di sisi Allah SWT" Kyai Maman menempatkan Allah sebagai subjek yang Melihat sesuatu , lalu mengkaitkan dengan kepasrahannya pada kehendak Allah, pemberian Allah dan penilaian Allah atas masa depan dunia-akhirat seluruh hambanya. Jika neraka digambarkan dengan kesedihan atau duka, dan surga digambarkan dengan keindahan mempesona, maka manusia tidak pernah bisa memastikan bahwa kesedihan yang Allah berikan pada manusia di dunia adalah sebuah keburukan dan juga tidak pernah akan bisa memastikan bahwa kegembiraan seorang hamba adalah sesuatu yang baik menurut Allah SWT.
Jika pernyataan beliau tersebut berkenaan dengan tempat terbaik di akherat maka tanpa perlu saya memberikan jawaban, kita semua sama-sama bisa menjawab terhadap pertanyaan: “apakah tempat yang terbaik menurut
Allah SWT bagi orang kafir ?” dan "Kemanakah tempat terbaik di sisi Allah bagi orang kafir untuk kembali ?" lalu "apakah tempat terbaik di sisi Allah bagi orang mu'min ?". Dalam pidato tersebut cara dakwah halus Kyai
Maman telah menang beberapa ronde dibandingkan pendakwah yang suka berteriak kafir. Beliau
mengajak semua orang dari latar belakang apapun untuk berbuat kebaikan, namun
beliau tetap menyampaikan pesan-pesan ketauhidan; mengajak semua orang
dari semua latar belakang agama untuk melakukan “amar ma’ruf dan nahi munkar”
tanpa menyebutkan bahwa mereka yang tidak beragama Islam adalam orang yang “munkar” ; mengajak semua orang kepada Islam tanpa menyebut mereka yang belum Islam dengan sebutan "kafir" ataupun "inkar". Dengan begitu mereka yang belum diberi hidayah kepada Islam tidak merasa dinomorduakan dan mau menerima ajaran untuk berbuat kebaikan dalam koridor kemanusiaan.
Perkataan
senada juga pernah mengundang kontra beberapa tahun yang lalu. Dengan santai
almarhum Gus Dur bertutur yang kira-kira berbunyi “tidak penting apa agama atau
sukumu. Kalau kamu melakukan sesuatu yang baik untuk semua, orang tidak akan
bertanya apa agamamu”. Dalam pernyataan ini Gus Dur mengajak semua orang untuk
berbuat baik tak peduli apapun agama atau suku yang dianutnya. Ya, memang benar
orang lain tidak akan bertanya tentang agama orang lain yang memberi jasa dan
kontribusi, meskipun terkadang orang yang baik dan berjasa akan menjadi
kebanggaan bagi umat yang seagama dengan dia.
Dalam kalimat tersebut sebetulnya masih ada kalimat lanjutan yang Gus
Dur memilih untuk tidak menyebutkannya. Gus Dur sangat paham tentang nilai
kebhinnekaan di Indonesia sehingga menahan diri untuk mengucapkan “ orang
memang tidak akan bertanya tentang agamamu, tapi Allah SWT akan bertanya loh
yaaaa”.
Agama memang menjadi bahasan yang sensitif dalam ruang publik. Setiap
orang pasti menganggap bahwa agamanya yang paling baik dan paling benar. Namun
kiranya hal ini cukup menjadi konsumsi diri sendiri. meminjam istilah dari Mbah
Emha Ainun Najib bahwa agama adalah dapur sebuah restoran, sedangkan akhlaq
adalah penyajian makanan di ruang para pengunjung menikmati makanan.
Hidangkanlah makanan dengan baik, benar dan penuh keindahan untuk setiap orang
tanpa perlu menyebut-nyebut dapur restoran kita kepada mereka. Dakwah itu
merangkul, bukan memukul; mengajar, bukan membajak; dengan kecintaan, bukan dengan kebencian. Wallahu a’lam.
Menjalin
hubungan asmara dengan orang yang kita cinta tentu saja membuat hati
berbunga-bunga nan bahagia. Apalagi kalau janji untuk menikah dan hidup bersama
sampai mati sudah disampaikan kepadanya. Jangan sampai rencana yang sudah
dirakit bersama buyar seketika
gara-gara tidak ada restu dari orang tua.
Orang
tua seharusnya selalu menjadi ‘the number
one’ dalam kehidupan manusia. Bahasa syair mengkiaskan orang tua sebagai
Tuhan kedua. Andai saja tuhan
memperbolehkan manusia untuk bersujud kepada hamba, maka yang berhak disujudi
pertama kali adalah orang tua. Dalam kaitannya dengan pernikahan, ridho orang
tua menjadi salah satu syarat sahnya pernikahan. Tidak jarang kasus ‘gagal nikah’ terjadi karena tentangan
dari orang tua yang tidak setuju dengan ‘bakal calon’ pasangan yang dipilih
oleh anaknya.
Beragam
motif untuk mengabadikan sesuatu dengan format photo maupun video; Ada yang berniat
untuk membuat dokumentasi pribadi, sebagai kenang-kenangan;Ada yang melakukannya karena menjadi mata
pencaharian; Ada yang melakukannya sekedar untuk pamer dan panas-panasan; ada
juga yang melakukannya untuk mencari sensasi dan ketenaran.Apapun boleh difoto, namun berfikirlah
sekalilagi untuk berfoto dalam keadaan
bugil (baca: telanjang). Apalagi berinisiatif mengabadikan hubungan badan
dengan format video. Resikonya besar, sob.
Sukma Viti sedang memakan pasir. sumber: daily mail
Umumnya orang berdiet dengan
mengkonsumsi sayuran, buah-buahan, berolahraga keras, mengkonsumsi air putih,
mengurangi makanan berlemat, atau juga dengan mengatur pola makan. Namun cara
ini tidak berlaku bagi Kusma Viti, 78 tahun, yang tinggal di Varanasi, India.
Diet yang dia lakukan adalah dengan mengkonsumsi pasir.
Penulis
dilahirkan di tengah-tengah keluarga sederhana yang kaya dengan kasih sayang.
Sejak kecil menyukai sastra, public speaking, dan kegiatan tulis
menulis dengan bimbingan orang tua dan kakak-kakaknya. Menyelesaikan pendidikan
TK di Darussalam Pasirputih, SD di
SDNegeri Sukanegara, SMP di SMP Negeri 1 Madang Suku 1, SMA/Sederajat di Ponpes
Gontor Ponorogo. Saat ini tengah dalam proses menyelesaikan pendidikan di
Fakultas Hukum Universitas Jember.
Kalau ada yang bertanya ,"air terjun apa yang paling tinggi di Jawa
Timur ?", jangan ragu untuk menjawab "air terjun Tretes". Air
terjun ini memiliki tinggi 158 meter dan terletak di ketinggian 1250 meter
di atas permukaan air laut dan merupakan hulu sungai Sumber Watu Bonakah. Jangan
salah pelafalan. pelafalan huruf "e" pada kata "tretes" bukan seperti pelafalan
huruf "e" pada kata "mal(e)s" dan "b(e)rat", akan tetapi seperti
pelafalan huruf "e" pada kata "F(e)bruari" dan juga
"tok(e)k".
Rute perjalanan menuju air terjun ini tidak terlalu sulit. Dari pasar Kandangan, kediri kita ambil arah menuju Wonosalam, karena air
terjun ini terletak di Dusun Pengajaran, Desa Galengdowo, Kecamatan Wonosalam. Jarak
tempuh dari pasar Kandangan sampai ke Pengajaran sekitar 24,5km.
Pada suatu hari menghadaplah Abul 'Ash
bin Rabie' kepada Nabi S.A.W, yaitu sebelum beliau diutus menjadi Nabi, kemudian
berkata kepada Nabi s.a.w: "Aku ingin meminang putrimu Zainab."
Abul Ash merupakan seorang pria yang terkenal dengan tampan, rupawan, kaya, berharta, yang membuat siapapun terpana dan terpesona ketika melihatnya.
Nabi SAW menjawab, "Aku
tidak bisa menjawab mu sebelum aku memberi tahu Zainab perihal pinanganmu (apa
dia setuju apa tidak)." Kemudian Nabi saaw masuk kpd Zainab dan barkata padanya:
"Putra bibimu (Abul 'Ash datang padaku dan dia meminangmu, apa engkau
setuju menerimanya sebagai suami?"
Seketika wajahnya memerah,
kemudian tersenyum.
Nabi SAW keluar menemui Abul 'Ash
memberitahu kalau puteri beliau setuju untuk menjadi isterinya.
Maka menikahlah Zainab dengan Abul
'Ash bin Rabie' dan dimulailah kisah cinta yang dahsyat antara dua sejoli yang
saling mencintai ini.