Apa kamu tahu yang kurasakan diawal pertama aku melihatmu ? Bukan hanya berdebar-debar atau berdegup kencang. Jantungku hampir lepas dari letaknya semula. Arteri dan nadi diserang bandang darah yang semakin deras memancar. Energinya menerjang: mata terus membelalak, mulut tak mau mengatup, juga tangan tak bisa dicegah untuk bergerak, ingin menggapaimu. Namun sayangnya kamu jauh di seberang tempat dudukku.Gelas es teh lah yang kurengkuh: untuk menutup inginku.
Aku sudah mendengar sedikit-banyak tentangmu, dari suara lembut adik perempuanku tiap kali menelepon. Iya, tentang kamu yang mengantarkannya ke bengkel untuk servis motor, tentang kamu yang meminjaminya duit tapi tidak mau diganti, tentang kamu yang mengajarinya grammar and structure, tentang kamu yang sederhana, tentang kamu yang menyukai warna merah, tentang kamu yang nggak bisa masak, bahkan tentang kamu yang ngorok kalau tidur. Seakan-akan tidak ada topik lain dengannya selain membahas kamu. Dan setiap kali itu pula mulutku hanya tertutup, mataku terpejam, anganku melambung menghayalkan sosok peri cantik yang menari-nari di atas telaga nirwana. Tapi bukan Mimi Peri, tentunya !
Sejak cerita-cerita panjang itu aku jatuh cinta pada bayanganmu.Kamu tahu, untuk bertemu denganmu kali ini aku harus fitness 2 bulan untuk menurunkan 5kg berat badan.Untuk menemuimu aku harus bolos sekolah dan pasti nanti sepulangnya 10 cambukan rotan akan mendarat di paha kiri dan kanan, setidaknya 20 kali akan berlari keliling balai pertemuan, dan hukuman kerja beberapa hari lamanya. Namun tidak apa-apa, semua itu harga yang cocok untuk bertemu salah seorang putri bapakmu yang cantiknya keterlaluan.
Untung kamu lahir di 1994, remaja di 2008, dan dewasa di 2015. Kalau masa pertumbuhanmu di masa kerajaan Siliwangi ataupun Mataram, Sudah barang tentu kamu akan membuat dua kerajaan atau bahkan lebih berperang memperebutkanmu. Untung Soekarno tidak pernah bertemu denganmu, entah dengan alasan apa tentu dia ingin memperselirmu. huuuuffft. .
Dan di pertemuan pertama itu aku tahu, kamu bukan perempuan yang mudah untuk ditaklukkan. Beruntung kalau aku hanya melawan rahwana, atau sekalian saja rahwana bergabung dengan pandawa jadi satu melawanku. tak masalah. Yang aku takutkan hanyalah melawanmu. Yang aku takutkan adalah melawan penolakanmu. Tiada daya dan upaya untuk membuatmu cinta padaku !
rokok dan kopi adalah pasangan serasi. sumber: www.laweekly.com
“Merokok dapat melemahkan kerja paru-paru, namun menguatkan kerja jantung.
Minum kopi dapat melemahkan kerja jantung, namun menguatkan kerja paru-paru”. Kira-kira
demikian kesimpulan dari beberapa artikel pendek tentang kesehatan. Itulah
mengapa 90% perokok adalah penikmat kopi. Disadari oleh mereka ataupun tidak,
aktivitas merokok dan mengopi merupakan aktivitas yang balance alias seimbang, dan juga menyeimbangkan kinereja badan. Rokok dan kopi adalah pasangan kawin yang paling serasi.
Idealisme
dalam diri seseorang ibarat nyawa di dalam tubuh. Tubuh tanpa nyawa akan
kehilangan fungsi kesejatiannya. Seseorang tanpa idealisme akan kehilangan
harganya. Demikian pentingnya nilai sebuah idealisme. Idealismelah yang
menentukan arah bahtera perjuangan mengarungi laut kehidupan.
Lahir
dan dibesarkan dalam lingkungan santri memiliki peran penting dalam pembentukan
minsed idelogi kita. Tanpa membutuhkan
pengukuhan ataupun surat keputusan (SK), kita merasa memiliki tanggungjawab
untuk mengkampanyekan ideologi religiusitas. Mempromosikan nilai-nilai agama
dalam setiap tapak lini perjuangan.
Dalam
hal ini kita memilih jalur tengah yang dalam Al-Quran diperkenalkan dengan istilah
“ummatan wasathon”, atau “kaum tengah”. Kita mencintai ide-ide maupun doktrin
ajaran agama cinta yang menginginkan ending setiap perjungannya adalah cinta. Tentu
saja hal seperti ini sangat berat. Menjadi “kaum tengah” tidak berarti netral
dan buta terhadap salah dan benar. Justeru menjadi kaum tengah dituntut untuk
selalu mengedepankan kebenaran tanpa memandang latarbelakang organisasi, madzhab, suku, ras atau agama seseorang
sekalipun.
Tidak
jarang ide-ide yang disampaikan mendapat apresiasi dan sorak kegembiraan dari
mereka yang merasa sama sepemahaman. Namun tidak jarang juga dipojokkan dan
disudutkan oleh mereka yang merasa risih ataupun prihatin terhadap gagasan yang
disampaikan. Semua itu tidaklah menjadi masalah karena yang dicari bukanlah
tepuk tangan dan sorak-sorai pujian.
Tidak
jarang pula orang yang semula menyetujui dan memuji-muji dan pada saat yang
lain berubah membenci bahkan memusihi. Kadang kala kita menjadi sasaran ‘kaum
kiri’, kadang kala kitapun diserang habis oleh mereka yang merasa sebagai ‘orang
kanan’. Pun itu semua bukanlah masalah karena kita tidak dituntut untuk membuat
semua orang untuk mencintai kita. Toh mereka yang membenci tidaklah berguna
ketika disodori beribu pembelaan dari kita.
Life must go on, kan ? .
Satu
hal yang harus terus kita lakukan adalah terus meningkatkan diri dengan cara
menambah bacaan. Bahan bacaan bukan hanya tulisan dalam buku maupun rentetan
kalimat dalam lembara-lembar tercetak, melainkan semua pelajaran yang
disampaikan Tuhan melalui ayat-ayat semesta. Lagian, semua orang adalah guru dan alam raya adalam sekolah yang
lengkap dengan bangku, meja dan segala aksesorisnya.
Kalau ditanya mengenai masa
depan: salah satunya semoga Allah mempermudah kita untuk membuat sebuah lembaga pendidikan yang menampung segala
jenis keilmuan tanpa membedakan ini ilmu agama, itu ilmu umum, itu ilmu sosial,
itu ilmu sains. Karena hakikat semua keilmuan adalah sama, sejenis, yang
bersumber dari Tuhan melalui agama yang Dia ciptakan. Insyaallah jalan ini
masih sama hingga detik 1 syawwal 1438H/ 25 Juni 2017 ini. Kadang menapak, kadang lurus, dan kadang berliku. Kadang turun, kadang menanjak, kadang berlubang dan menghentak. tapi tenang saja menghadapi itu semua jika kita sudah menganggapnya inilah jalan yang benar.
*Jika berkenan ubahlah kata kita menjadi saya (penulis). Wallahu alam. 01:50 WIB, Darul Hikmah
Mengikuti
pergerakan dunia maya tidak akan pernah ada berhentinya. Dari isu satu berganti
ke isu yang lainnya. Dari berita yang satu beralih lagi ke berita yang lainnya.
Tidak sedikit dari isu dan berita itu menjadi viral dan terkenal. Tidak selalu
lewat media massa nasional, sering juga melalui media sosial. Kali ini Kyai
Maman Imanul Haq, pengasuh Ponpes Al Mizan Majalengka yang menjadi sasaran ‘penggorengan’. Kata-katanya dalam acara Kick Andi pada 16 Juni 2017 lalu, ‘disunat’ dan menjadi bahan perdebatan. Dalam
kesempatan tersebut beliau memberi pernyataan:
“Agama
itu akan dilihat dari apa yang kita kerjakan. Jangan lihat apa agamamu, tapi
lihat apa yang temanmu kerjakan pada kita. Orang yang jujur, orang yang soleh,
orang yang punya solidaritas sosial, punya dedikasi, punya loyalitas, apapun
agamanya, dia pasti mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT.
Dari kutipan kalimat tersebut yang paling disoroti adalah kalimat
terakhir, “Orang yang jujur, orang yang
soleh, orang yang punya solidaritas sosial, punya dedikasi, punya loyalitas apapun
agamanya, dia pasti mendapat tempat yang terbaik di sisi Allah SWT. Kalimat ini
dianggap setara dengan ungkapan bahwa “semua agama adalah sama”. Bahkan sebuah akun
facebook memberi judul dengan huruf besar “MENYAMAKAN SEMUA AGAMA SAMA DI SISI
TUHAN, KH MAMAN IMANULHAQ FAQIH DIANJURKAN PINDAH KE AGAMA BUDDHA” disertai
dengan cuplikan video dan dalil-dalil untuk memperkuat argumennya. Hingga
tulisan ini saya buat postingan tersebut sudah mendapat respon sebanyak 12.961
kali dibagikan dengan komentar-komentar yang beragam. Padahal jika diperhatikan
dan dicerna sungguh-sungguh tidak akan ditemukan satupun kalimat yang
menyatakan bahwa ‘semua agama sama di sisi Tuhan’.
Tentang Penafsiran
Kyai Maman sangat berhati-hati
dalam memilih kata supaya tidak melukai umat agama selain Islam, dan untuk
tidak menyakiti saudaranya pemeluk Islam.Jika kalimat tersebut dipisah menjadi tiga, maka akan tampak jelas bahwa
beliau sangat cerdas membangun frasa. Mari diperhatikan kata-demi kata:
1.Orang
yang jujur, orang yang soleh, orang yang punya solidaritas sosial, punya
dedikasi, punya loyalitas. Pada ucapan beliau ini beberapa sikap dan sifat
yang diakui oleh semua agama sebagai sikap dan sifat yang baik dikumpulkan
untuk mengingatkan kepada seluruh audience
tentang sifat yang seharusnya dimiliki oleh semua orang.
2.apapun
agamanya. Beliau sangat faham bahwa yang mendengarkan dan menyaksikan
panggungnya bukan hanya umat Islam, melainkan dari beragam latarbelakang dan
status keagamaan, sehingga tidak menyebut secara frontal dengan kalimat “jika
agamanya Islam”. Hal ini juga berkaitan dengan kampanye toleransi dan
kebhinnekaan yang selama ini beliau kumandangkan.
3.dia pasti
mendapat tempat yang terbaik di sisi Allah SWT. (mungkin) kalimat ini yang
membuat pihak kontra semakin kepanasan. Secara tidak langsung kyai Maman
disudutkan dan dianggap salah karena tidak mengucap “orang baik, jujur, soleh,
kalau tidak beragama Islam maka mendapattempat yang buruk di sisi Allah SAW.”
Berbeda respon dalam menerima sebuah berita adalah hal
yang biasa. Perbedaan anggapan dan penafsiran atas sebuah informasi juga bukan
hal yang luar biasa, bahkan diantara para ahli tafsir sering menemui perbedaan
penafsiran. Wajarlah kalau publik
kekinian juga merespon kalimat Kyai Maman dengan ekspresi berbeda-beda. Apalagi
banyak yang sekedar share tanpa membandingkan ‘caption’ yang ditulis penyebar
dengan isi pidato yang pembicara sampaikan.
Tentang “Tempat Yang Terbaik” di sisi Allah
Kalau
melihat secara tekstual ayat alquranakan ditemui bahwa surga menjadi hak paten penganut agama Islam saja.
begitupula dengan kitab suci lainnya pasti menyebutkan bahwa umatnyalah yang
akan menghuni surga. Dalam ucapannya Kyai Maman tidak menyebut dengan “Orang
yang jujur, orang yang soleh, orang yang punya solidaritas sosial, punya
dedikasi, punya loyalitas apapun agamanya, dia pasti mendapat “Surga Allah SWT”, akan tetapi memilih
dengan kalimat “mendapat tempat terbaik
di sisi Allah”. Kalimat ini seakan bermakna sangat luas namun ternyata
sangat spesifik. Bermakna luas karena
setiap orang seakan bisa membuat penafsiran sesuai dengan background agamanyamasing-masing dan tidak memberi penjelasan "terbaik di dunia" atau "terbaik di akhirat". Kalimat tersebut adalah kalimat pesifik karena ternyata beliau membatasinya dengan
kata “di sisi Allah SWT”.
Pada kalimat "Tempat terbaik di sisi Allah SWT" Kyai Maman menempatkan Allah sebagai subjek yang Melihat sesuatu , lalu mengkaitkan dengan kepasrahannya pada kehendak Allah, pemberian Allah dan penilaian Allah atas masa depan dunia-akhirat seluruh hambanya. Jika neraka digambarkan dengan kesedihan atau duka, dan surga digambarkan dengan keindahan mempesona, maka manusia tidak pernah bisa memastikan bahwa kesedihan yang Allah berikan pada manusia di dunia adalah sebuah keburukan dan juga tidak pernah akan bisa memastikan bahwa kegembiraan seorang hamba adalah sesuatu yang baik menurut Allah SWT.
Jika pernyataan beliau tersebut berkenaan dengan tempat terbaik di akherat maka tanpa perlu saya memberikan jawaban, kita semua sama-sama bisa menjawab terhadap pertanyaan: “apakah tempat yang terbaik menurut
Allah SWT bagi orang kafir ?” dan "Kemanakah tempat terbaik di sisi Allah bagi orang kafir untuk kembali ?" lalu "apakah tempat terbaik di sisi Allah bagi orang mu'min ?". Dalam pidato tersebut cara dakwah halus Kyai
Maman telah menang beberapa ronde dibandingkan pendakwah yang suka berteriak kafir. Beliau
mengajak semua orang dari latar belakang apapun untuk berbuat kebaikan, namun
beliau tetap menyampaikan pesan-pesan ketauhidan; mengajak semua orang
dari semua latar belakang agama untuk melakukan “amar ma’ruf dan nahi munkar”
tanpa menyebutkan bahwa mereka yang tidak beragama Islam adalam orang yang “munkar” ; mengajak semua orang kepada Islam tanpa menyebut mereka yang belum Islam dengan sebutan "kafir" ataupun "inkar". Dengan begitu mereka yang belum diberi hidayah kepada Islam tidak merasa dinomorduakan dan mau menerima ajaran untuk berbuat kebaikan dalam koridor kemanusiaan.
Perkataan
senada juga pernah mengundang kontra beberapa tahun yang lalu. Dengan santai
almarhum Gus Dur bertutur yang kira-kira berbunyi “tidak penting apa agama atau
sukumu. Kalau kamu melakukan sesuatu yang baik untuk semua, orang tidak akan
bertanya apa agamamu”. Dalam pernyataan ini Gus Dur mengajak semua orang untuk
berbuat baik tak peduli apapun agama atau suku yang dianutnya. Ya, memang benar
orang lain tidak akan bertanya tentang agama orang lain yang memberi jasa dan
kontribusi, meskipun terkadang orang yang baik dan berjasa akan menjadi
kebanggaan bagi umat yang seagama dengan dia.
Dalam kalimat tersebut sebetulnya masih ada kalimat lanjutan yang Gus
Dur memilih untuk tidak menyebutkannya. Gus Dur sangat paham tentang nilai
kebhinnekaan di Indonesia sehingga menahan diri untuk mengucapkan “ orang
memang tidak akan bertanya tentang agamamu, tapi Allah SWT akan bertanya loh
yaaaa”.
Agama memang menjadi bahasan yang sensitif dalam ruang publik. Setiap
orang pasti menganggap bahwa agamanya yang paling baik dan paling benar. Namun
kiranya hal ini cukup menjadi konsumsi diri sendiri. meminjam istilah dari Mbah
Emha Ainun Najib bahwa agama adalah dapur sebuah restoran, sedangkan akhlaq
adalah penyajian makanan di ruang para pengunjung menikmati makanan.
Hidangkanlah makanan dengan baik, benar dan penuh keindahan untuk setiap orang
tanpa perlu menyebut-nyebut dapur restoran kita kepada mereka. Dakwah itu
merangkul, bukan memukul; mengajar, bukan membajak; dengan kecintaan, bukan dengan kebencian. Wallahu a’lam.
Suatu
hari seorang ahli ibadah mengintruksikan kepada seorang murid seniornya untuk
berkeliling dunia mencari makhluk paling buruk yang ada di dunia, dan
membawanya kehadapan Sang Guru. Sang muridpun berjalan selama berhari-hari dan bertemu dengan seorang pelacur. Dalam hati
dia meyakini bahwa inilah makhluk terburuk yang dicari. Setelah berfikir
panjang, menimbang dan merenungkan, keyakinannya berubah. Suatu saat pelacur
bisa saja bertaubat, dan hilanglah keburukannya yang sudah lama melekat.
Ada fenomena
unik yang hampir dialami oleh semua penganut agama, yaitu merasa marah ketika
disebut kafir. Sebenarnya nggak menghawatirkan
kalau kemarahan sekedar disalurkan melalui mulut/ucapan ataupun melalui
curhatan di media sosial. Namun kenyataannya, efek dari kata kafir luarbiasa
berbahaya, suatu waktu menjadi korek pemantik adu fisik, perang antar golongan,
bahkan dilain waktu menjadi penyebab saling berbunuhan.
Setiap
kita mempunyai pegangan hidup yang mungkin saja lahir dari hasil penggalian
panjang proses perputaran roda waktu, dan roda kehidupan. Di Gontor, para
santri diajari dengan nilai-nilai kehidupan melalui kelas formal dan juga kelas
informal yang bukan hanya full day school
saja melainkan full time school, pendidikan
24 jam non stop. Mari kita intip sejenak beberapa nilai yang diajarkan di kelas
awal melalui sebuah mata pelajaran bernama “al-mahfudzot”. Bagi saya sendiri,
dan bagi para alumni di manapun semoga
bermanfaat dan bisa menarik lagi tali
kendali kehidupan kedalam genggaman tangannya masing-masing sambil mengingat lagi
masa-masa belajar ketika masih unyu , khusu’
belajar di kelas satu, nu’as fil fasl, naum
a’lal maktab, thobur fil hammam wa math’am, yu’aqob bil mudabbir, dan
lain-lain. Bagi yang bukan alumni Gontor semoga memberikan bahwa Gontor
memberikan yang terbaik bagi santri-santrinya, jadi kalau ada anak-anak gontor, alumni Gontor yang mbeling, nableg, atau berbuat hal yang dianggap
negatif jangan dijelek-jelekin Gontornya, ya Sob. Nabda’
bilbasmalah .........
tuhanmu, ya tuhanmu
tuhanku, ya tuhanku
tuhanmu berbeda dengan tuhanku
menurutmu, tuhanku bukan tuhan
menurutku, tuhanmu bukan tuhan
tuhanmu menciptakan agama yang kamu anut
tuhanku menciptakan agama yang aku anut
agamamu, ya agamamu
agamaku, ya agamaku
menurutmu, aku ini kafir
menurutku, kamu itu kafir
tuhanmu menciptakan surga untukmu
tuhanku menciptakan surga untukku
surga buatan tuhanmu bukan untukku
surga buatan tuhanku bukan untukmu
tuhanmu menciptakan neraka katamu,
neraka buatan tuhanmu itu untukku
tuhanku juga menciptakan neraka
karena neraka buatan tuhanku itu untukmu
Salah satu contoh doktrin untuk menikmati hidup yang menurut saya "ngawur".
Si penulis mencoba untuk mengqiaskan dua hal yang konteks pembahasannya sangat jauh berbeda, yaitu menyamakan antara "kerasnya hidup" dengan "diperkosa"
Hasilnya, otak porno saya tidak dapat menangkap pesan untuk "menikmati hidup", akan tetapi lebih kepada pesan bahwa "dalam hidup harus mau, harus enak, harus suka, dan harus menikmati pemerkosaan".
Pendidikan gratis cenderung menjadi komoditas politik, dongeng masalalu yang masih sering didengungkan di masa sekarang dan "kemungkinan" juga di masa datang.
Jika memaknai pendidikan secara luas, kata "gratis" masih layak untuk disandangkan. Kau bisa secara gratis mendapatkan pendidikan dimana-mana, mulai dari pendidikan alam, pendidikan sosial hingga pendidikan sexsual.
Namun, jika maknanya disempitkan sedikit dengan memberikan batas-batas dinding yang disebut sekolahan maka akan banyak hal miris yang kamu temukan.
Di balik dinding-dinding ini kau akan diperkenalkan dengan setan bernama Ijazah yang akan melenakanmu dari tujuan pendidikan yang sesungguhnya.
Jika kau sekarang dalam masa sekolah ataupun dalam masa kuliah, ku sarankan untuk tidak memunafikkan diri dengan mengatakan "aku tak butuh ijazah sekolah, tak butuh ijazah kuliah, aku sekolah untuk mencari ilmu saja". Bukankah itu yang kau cari? Di negeri setengah surga ini nasibmu digantungkan pada sederetan angka yang tertera di dalamnya, illa man rohima robbah, kecuali orang-orang yang dikasihi Tuhannya
Memang tak butuh ijazah untuk meraih predikat sebagai petani ataupun buruh tani handal, yang kau harus lakukan adalah merumat sawahmu dengan baik dan benar. Tak butuh Ijazah untuk menjadi babu atau istilah kerennya sekarang asisten rumahtangga yang baik, yang kau harus lakukan adalah menyeboki pantat bayi majikanmu dan menyuapinya hingga kenyang. Tak butuh ijazah untuk menjabat sebagai pekerja sexs yang profesional, yang harus kau lakukan adalah melayani para pembuat undang-undang yang datang serta siapapun yang membutuhkan dari sela kakimu kepuasan.
Tapi, untuk menjadi guru, untuk menjadi dokter, untuk menjadi polisi, untuk menjadi camat, bahkan untuk menjadi kasir di minimarket pun kau akan diminta menunjukkan Ijazah terahirmu.
Dan Ijazah-ijazah itu harus kamu tebus juga dengan mahluk Tuhan yang bernama uang, sekali lagi "uang".
UU No 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional jangan dipolitisi.
Petani ingin anaknya bisa terus sekolah, tamat dan dapat ijazah
asisten RT ingin anaknya bisa terus sekolah, tamat, dan dapat ijazah.
pelacurpun mungkin begitu, mungkin.
Setidaknya
ada dua kelompok manusia berdasarkan jenisnya, yaitu laki-laki dan perempuan.
Bukan tanpa alasan Tuhan menciptakan manusia. Menurut salah satu ajaran agama,
Tuhan menciptakan manusia bukan lain adalah untuk menyembah-Nya. Jika pada
perkembangannya ada segolongan manusia yang ingkar dan menolak untuk menyembah
Tuhan,